• Latar Belakang dan Awal Mula Pembangunan

Setiap desa memiliki potensi wisata dan ekonominya masing-masing, tak terkecuali di desa Jangglengan, kecamatan Nguter, kabupaten Sukoharjo. Salah satu potensi yang dimiliki oleh desa Jangglengan yang cukup terkenal ialah adanya pemancingan “Lembayung Senja” yang cukup menarik perhatian. Adapun lokasinya tergolong sangat strategis yakni berada di depan balai desa Jangglengan. Sejalan dengan potensi desa Jangglengan yang dapat dijadikan sebagai desa wisata, pemancingan Lembayung Senja sendiri didirikan dengan tujuan agar dapat dikembangkan menjadi agrowisata di desa Jangglengan dan sebagai upaya peningkatan taraf hidup masyarakat desa. Dengan adanya pemancingan maka kawasan sekitar pemancingan tersebut akan ramai pengunjung sehingga dapat dimanfaatkan oleh warga dengan membuka warung-warung kecil.

Awal pembangunan pemancingan Lembayung Senja di mulai pada tahun 2019, dimana pihak yang membangun dan mengelola ialah Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Lembayung Senja desa Jangglengan. Dana yang digunakan adalah dana dari desa yang telah disepakati bersama dengan masyarakat melalui rapat desa. Pada awal tahun 2020, pemancingan Lembayung Senja diresmikan dan dibuka untuk pertama kalinya. Masyarakat begitu antusias ketika peresmian pembukaan pemancingan. Awal peresmian pemancingan Lembayung Senja, disediakan ikan sebanyak 6,5 kuintal ikan. Proses pembangunan kolam pemancingan tergolong cepat yakni hanya sekitar 2 minggu namun renovasi-renovasi pemancinganlah yang memakan waktu tidak sebentar yakni sekitar 5 bulan.

  • Keadaan Sebelum dan Sesudah Pandemi di Pemancingan

Adanya pandemi Covid-19 tentu saja berpengaruh terhadap berbagai sektor, tidak terkecuali pada sektor wisata dan ekonomi desa. Hal ini jugalah yang terjadi pada pemancingan Lembayung Senja desa Jangglengan. Pemancingan tersebut masih tetap dibuka meskipun dalam kondisi pandemi. Hal tersebut justru mengakibatkan menurunnya penghasilan para pedagang yang ada di sekitar pemancingan karena jumlah pengunjung yang datang ke pemancingan kian menurun.

Jumlah pengunjung sebelum adanya pandemi Covid-19 ialah sekurang-kurangnya sebanyak 50 pegunjung tiap harinya. Sementara itu, semenjak pandemi Covid-19 pengunjung yang datang ke pemancingan paling banyak hanya sekitar 30-35 pengunjung sedangkan jumlah paling sedikit pernah hingga 15-20 pengunjung setiap harinya. Selain itu, pemancing juga diharuskan untuk selalu menaati protokol kesehatan namun belum ada hukuman atau denda yang berlaku jika terjadi pelanggaran peraturan. Sejauh ini, pelanggar aturan protokol kesehatan hanya diberi teguran secara langsung.

  • Kendala dan Permasalahan

Dalam pengelolaan pemancingan Lembayung Senja, pengelola tetap menemui berbagai masalah atau kendala, salah satunya adalah munculnya masalah ketika meluapnya sungai Bengawan Solo. Pengelola tempat pemancingan jika ingin mengadakan pergantian air atau pengerukan lumpur akan lebih sulit dan lebih lama ketika air sungai Bengawan Solo meluap. Tidak hanya itu, fasilitas yang ada pada pemancingan juga dirasa masih kurang, misalnya spanduk tulisan nama pemancingan, spanduk yang berisi peraturan peraturan di pemancingan, serta toilet khusus untuk tempat pemancingan yang belum tersedia. Selain itu, timbangan digital untuk mengukur berat ikan juga masih belum tersedia, padahal dengan adanya timbangan digital ini dapat memudahkan serta dirasa lebih efisien untuk proses penimbangan ikan.

  • Potensi Ekonomi dan Wisata

Pemancingan Lembayung Senja tentu memiliki potensi besar di sektor wisata dan ekonomi, Hal ini terlihat dari pengunjung pemancingan yang datang tidak hanya dari wilayah desa Jangglengan, melainkan ada yang dari wilayah Sukoharjo, Wonogiri, hingga Karanganyar. Terlebih, pemandangan di sekitar tempat pemancingan juga sangat indah sehingga diharapkan dapat lebih banyak menarik minat para pemancing baik dari dalam maupun luar wilayah desa Jangglengan. Rata-rata penghasilan kotor yang didapat oleh BUMDES dari pemancingan Lembayung Senja sekitar 300 hingga 400 ribu rupiah tiap harinya.

Satu hal yang menarik dari pemancingan Lembayung Senja adalah pengunjung bebas membawa ikan yang dibawa setiap sesinya dan tidak ada timbangan maksimal yang boleh dibawa. Harga tiket masuk pemancingan Lembayung Senja dibagi menjadi dua sesi dan harga tiket akan terus menurun selama tiga hari semenjak penambahan jumlah ikan di kolam pemancingan. Harga tiket masuk sesi pertama yang dibuka pada pukul 08.00 hingga pukul 15.00 pada hari pertama setelah penambahan jumlah ikan adalah 30 ribu rupiah. Setelah itu, harga tiket akan menurun di sesi kedua yakni pada pukul 17.00 hingga pukul 24.00 menjadi sekitar 25-15 ribu rupiah. Tentu saja hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung untuk datang ke pemancingan Lembayung Senja, bahkan ada pengunjung yang beruntung pernah membawa ikan hingga seberat 10-15 kg ikan. Meskipun demikian, selama ini BUMDES belum merasa rugi dalam hal materi atau uang meskipun profit yang didapatkan terkadang sedikit.

Dalam pengelolaannya, penambahan ikan dilakukan setiap tiga hari sekali dengan menambah minimal satu kuintal ikan yang diambil dari waduk Gajah Mungkur. Jenis ikan yang ada di pemancingan Lembayung Senja ialah ikan patin dan nila dengan jumlah ikan patin jauh lebih banyak dibanding ikan nila.

Pemancingan Lembayung Senja sejauh ini terus dikembangkan pengelolaannya seperti perencanaan penambahan tempat berteduh untuk para pengunjung. Sementara itu, pemancingan Lembayung Senja sudah dipromosikan melalui sosial media seperti Facebook dan WhatsApp. Upaya lain yang dilakukan oleh pengelola pemancingan untuk menarik minat pengunjung adalah diadakannya arisan dan battle ikan terberat. Sebelumnya, kegiatan tersebut dilaksanakan setiap seminggu sekali namun karena cuaca yang tidak begitu mendukung, kegiatan tersebut dihentikan sementara selama dua bulan terakhir.

Jika terus dikembangkan dan didukung dengan promosi yang lebih baik, pemancingan Lembayung Senja desa Jangglengan diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi BUMDES dan dapat memperbaiki kondisi perekonomian masyarakat desa Jangglengan.

Ditulis oleh : Alfia Nur Annisa